Minggu, 28 Nov 2021
  • Penerimaan Siswa Baru Islamic International School PSM Magetan Tahun Ajaran 2022/2023 ->Daftar

GURU, INSAN CENDEKIA (BUKAN PAHLAWAN TANPA TANDA JASA)

GURU, INSAN CENDEKIA

(BUKAN PAHLAWAN TANPA TANDA JASA)

Oleh Ayu Asmarani, S.Pd.,Gr.

 

Akhir-akhir ini banyak pihak menyatakan bahwa kualitas guru kita rendah. Sementaraitu, guru kita mengemban tugas sebagai tenaga kependidikan yang bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan sebagaimana dinyatakan dalam pasal 39 Ayat 1 UU Sisdiknas Tahun 2003. Begitu pula Ayat 2 UU Sisdiknas Tahun 2003 menyatakan bahwapendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan. Oleh karena itu, guru diharapkan secara terus-menerus mengembangkan profesinya secara berkelanjutan.

Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan (dalam Pasal 1:6 UUSPN). Sedangkan, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (dalam UUGD Pasal 1:1). Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa seorang guru merupakan salah satu bagian dari pendidik.

Seorang guru hendaknya mampu menjadi guru yang hebat. Guru hebat harus memenuhi kualifikasi, memiliki seluruh kompetensi pendidik, memiliki ciri-ciri pendidik abad ke-21. Selain itu, guru hebat juga harus mampu merancang, melaksanakan, dan menilai pembelajaran di mana pun dan kapan pun mereka bertugas dengan fokus pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi insan Indonesia sejati.

Selain guru harus menjadi guru hebat, guru juga diharapkan mampu menjadi guru profesional. Berdasarkan prinsip-prinsip profesionalitas guru yang tertuang dalam Pasal 7 (UGD) profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip antara lain, (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; (3) memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas; (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan tugas; (5) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; (6) memeroleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; (8) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan (9) memiliki organisasi profesi yang memunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Seorang guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, berkewajiban yaitu (a) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; (b) meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (c) bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; (d) menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dank ode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; serta (e) memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Implementasi di lapangan, guru hanya sekadar melaksanakan tugas mengajar. Guru berangkat ke sekolah, masuk ke ruang kelas untuk mengajar siswa, setelah itu selesai. Apalagi jika status guru tersebut hanya sebagai guru bantu atau guru wiyata yang hanya dibayar ala kadarnya. Guru demikian bukanlah cerminan guru hebat ataupun guru profesional. Meskipun status hanya sebagai guru bantu atau guru wiyata, seharusnya guru hebat dan professional harus mampu menunjukkan kualifikasinya untuk mendidik peserta didik.

Sebagian orang berpendapat bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau mentransfer ilmu dari seorang pendidik kepada peserta didik. Akan tetapi, tampaknya pendapat ini harus jauh-jauh ditinggalkan, karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sekarang ini, mengajar harus kita maknai sebagai sebuah kegiatan yang kompleks, yaitu penggunaan secara integratif sejumlah keterampilan untuk menyampaikan ilmu. Pengintegrasian keterampilan-keterampilan yang dimaksud dalam hal ini harus dilandasi dengan seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu pengetahuan atau wawasan. Sementaraitu, penerapannya akan menjadi unik bila dipengaruhi oleh semua komponen belajar mengajar. Komponen yang dimaksud adalah tujuan yang hendak digapai, ilmu yang ingin disampaikan, subjek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, dan yang tidak kalah penting adalah keterampilan, kebiasaan, dan wawasan guru tentang dunia pendidikan dan misinya sebagai pendidik.

Jika mengajar dipahami sebagai kegiatan mentransfer ilmu kepada siswa, maka mengajar itu hanya akan terbatas pada penyampaian ilmu itu saja. Guru di pihak pertama menyampaikan ilmu itu saja. Guru di pihak pertama menyampaikan ilmu dan siswa di pihak kedua akan menerima secara pasif. Prosesnya pun bisa diketahui, pembelajaran akan berjalan secara membosankan karena yang mendominasi pembelajaran adalah guru, sedangkan siswa hanya sebagai penerima.\

Namun, apabila mengajar dimaknai sebagai segala upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk menciptakan proses belajar pada siswa dan mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Maka, jelas bahwa yang menjadi sasaran akhir dari proses pengajaran itu ialah siswa belajar. Artinya, segala upaya apapun dapat dilakukan selagi bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa mengantarkan siswa menuju pencapaian tujuan belajar yang telah dicanangkan. Siswa belajar secara aktif dan yang mendominasi di kelas adalah siswa.

Simpulannya, hakikat mengajar itu merupakan usaha guru menciptakan dan mendesain proses belajar pada siswa. Jadi,halyang terpenting dalam belajar mengajar itu bukanlah bahan yang disampaikan oleh guru.Akan tetapi, proses siswa dalam memelajari bahan tersebut (guru lebih menghargai proses dari pada hasil). Sekali lagi, peranan yang menonjol dalam belajar mengajar ada pada siswa. Hal ini bukan berarti bahwa peranan guru tersisihkan,tetapihanya diubah saja.

Jadi, guru yang profesional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik melalui keterampilan-keterampilan khusus agar tercipta sebuah pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR