Sabtu, 17 Jan 2026
  • ~ Strength and Honour ~

Pelajar Islamic International School (IIS) PSM Gelar Aksi

Kembali munculnya pelaku teroris yang belum lama meledakkan diri di Solo seolah mengundang perhatian banyak kalangan.Begitu pula di Magetan. Bahkan,tak hanya orang-orang dewasa,keprihatinan itu juga tampak dari pelajar-pelajar Islamic International School(IIS)PSM Magetan. Kemarin(26/9),para anak didik sekolah naungan Pesantren Sabilil Muttaqien(PSM)Magetan ini menggelar aksi damai mengutuk tindakan terorisme tersebut.

Aksi yang dipusatkan di alun-alun Magetan sejak pukul 07.00 tersebut,puluhan pelajar tersebut seolah memancing simpati terhadap warga Magetan yang melewati pusat jantung kota tersebut.Pelbagai selebaran yang berisikan penolakan kekerasan pun disebar.”Untuk itu kami berupaya untuk menanamkan pendidikan karakter kepada anak-anak didik kami,”kata Puji Santoso, koordinator lapangan aksi damai IIS-PSM,kemarin(26/9).
Tak hanya sekadar menyebar pamflet,dilakukan pula penandatanganan kain putih oleh anak didik IIS-PSM itu dan diakhiri dengan teatrikal dari anak didik kelas 4 dan 5 di depan Pendapa Surya Graha. Dengan beberapa aksi lugu,anak-anak IIS-PSM tersebut seolah mencoba mengundang perhatian banyak khalayak. Termasuk beberapa poster yang dibawa bertuliskan pelbagai pesan anti tindakan terorisme,kekerasan dan anarkisme.

Ditambahkan Puji,pembelajaran bersifat pendidikan karakter tersebut diharapkan mampu mengajarkan dan mengajak terutama kalangan pelajar Magetan untuk prihatin terhadap aksi terorisme.Termasuk,beberapa aksi kekerasan dan anarkisme yang seringkali muncul di beberapa pelosok Indonesia.”Kami menyerukan jika terorisme atau anarkisme itu bukanlah jalan terbaik. Sebagai orang yang berpendidikan,tentu tidak akan melakukan atau berpikiran melakukan tindakan-tindakan tersebut,”ungkap Puji.

Berangkat dari lembaga pendidikannya,Puji mengaku siap untuk menolak sikap-sikap terorisme atau pun anarkisme termasuk pelbagai tindak kekerasan,utamanya yang dialamatkan kepada anak-anak yang notabene generasi penerus bangsa.”Kami ingin menunjukkan bahwa budaya anarkisme yang(seolah sudah)mengakar di dunia pendidikan kita bukanlah hal yang harus dilestarikan. Tetapi,betapa pentingnya sebuah pendidikan tanpa kekerasan itu,”ungkapnya.(wka/eba)

radarmadiun

KELUAR