Oleh : Ahmad Zaky Ni’am Zaydan/Siswa PreUniversity 2

Marhaban Yaa Ramadhan, selamat datang bulan agung yang dinanti nanti

Sebagai muslim seharusnya rasa bangga dan gembira terpancar di wajahnya tatkala ramadhan menghampirinya. Sebab ramadhan adalah bulan penuh rahmat, bulan penuh berkah , juga bulan penuh ampuan bagi muslimin, ibaratnya Allah sedang mengobral habis habisan rahmat, berkah, dan ampunan Nya.

Meskipun dengan segala keistimewaannya, ramadhan kali ini memang terasa berbeda. Tak sama dengan ramadhan tahun tahun sebelumnya, umat islam sedang di uji dengan datangnya  virus corona. Walhasil, tentu kegiatan yang biasanya dilakukan di bulan mulia ini tidak bisa kita laksanakan dengan leluasa. Masjid masjid mulai sepi, shalat tarawih dan tadarus pun mulai menghilang, dan segala hal yang membatasi ditengah pandemi ini. Tetapi seharusnya dalam kondisi bagaimanapun ummat islam tetaplah harus ingat dan percaya bahwa ramadhan tetaplah ramadhan, apapun kondisi nya dengan segala keistimewaan nya.

Berbagai hal tadi mungkin mempengaruhi dan mengubah jadwal dan kebiasaan kita dan tentu membuat sedikit semangat kita menurun dan tidak maksimal karena semua dikerjakan dari rumah. Sehingga tidak sedikit dari kita yang mulai lupa dan lengah dari tujuan sesungguhnya ramadhan ini. Disinilah pentingnya bagi kita mengingat kembaliniat dan tujuan kita di bulan agung ini. Dari niat yang kuat serta diiringi usaha yang sungguh sungguh, barulah tujuan kita bisa terpacai.

Sebagai seorang muslim niat dalam menjalankan setiap amal adalah ikhlas karena Allah serta hanya untuk meraih ridho Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang artinya :

“ barang siapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan,maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ” (HR.Bukhori Muslim)

Dengan niat yang lurus dan ikhlas, maka kita akan terhindar dari amal yang sia-sia, bukan hanya sekedar puasa yang menahan lapar dan dahaga serta tidak berhubungan badan suami istri dari subuh hingga maghrib. Sehingga sukses tidaknya puasa kita ditentukan berdasarkan lurus dan ikhlasnya niat kita dan tercapainya tujuan yaitu peningkatan ketakwaan kita kepada Allah, sesuai dengan firman Allah SWT seruat Al Baqarah: 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

La’allkum tattaquuna, agar kamu bertakwa. Itulah tujuan akhir dari perintah puasa, yakni mendidik orang orang yang beriman agar bisa mencapai derajat yang semakin tinggi, yakni taqwa. Karena perlu kita ingat bahwa kemuliaan manusia bukan dilihat dari hartanya, pangkatnya, prsetasi, atau bahkan deret gelarnya. Tetapi bagi Allah derajat manusia hanya dilihat dari kadar ketakwaannya.

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.

Kata taqwa nampaknya sudah sangat akrab ditelinga kita, saking akrabnya sampai kita lupa apa makna taqwa itu sendiri.Tentu juga tidak mudah mencapai derajat tersebut, diperlukan perjuangan yang begitu berat. Dalam kalimat yang ringkas taqwa di definisikan dengan malksanakan segala apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala apa yang Allah larang. Cukup sederhana memang jika diucapkan dengan kata- kata, tatapi penjabarannya dalam kehidupan sehari-hari sugguh menuntut begitu banyak pengorbanan. Maka dalam memudahkan kita menggapainya Sayyidina Ali RA menjelaskan taqwa dengan 4 sifat

Sifat pertama, Al khaufu minal jalil ( Takut kepada Allah ), yakni manusia yang merasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jall juga disertai rasa cinta. Takut yang melahirkan kehati-hatian, kewaspadaan dan perlindungan diri dari azab Allah.

Sifat kedua, Al Amalu Bit Tanzil ( amal dengan dasar al quran ), yakni melakukan segala sesuatu dengan dasar Al quran. Orang yang bertaqwa akan bersungguh sungguh dalam beribadah, berbakti, berserah diri, dan bermal sholeh yang didasari oleh apa yang telah Allah turunkan yaitu Al quran

Sifat ketiga, Al Qona’atu bil qolil ( qonaah dengan yang sedikit ), qonaah artinya menerima apa adanya, merasa cukup dengan pemberian rizki Allah. Rizki itu bukan hanya uang atau  materi saja, tetapi segala karunia yang telah Allah karuniakan yang bermacam macam bentuknya. Orang betaqwa akan selalu merasa cukup dengan rizki yang diberi oleh Allah walaupun sedikit. Bahkan orang yang memiliki sifat tersebut juga sangat dicintai Allah

Sifat yang terkhir, Al isti’daadu li yaumir Rakhil ( mempersiapkan hari akhir ). Orang yang bertaqwa selalu memikirkan dan  mempersiapkan diri menghadapi akhirat nanti. Oleh karena itu mengingat mati melahirkan kewaspadaan dan kehati-hatian agar tidak terjerumus kedalam dosa.

Dengan mengamalkan sifat-sifat diatas maka insyaallah predikat taqwa akan kita raih dengan sempurna.

Lalu mengapa taqwa menjadi tujuan akhir puasa? Wallahu a’lam, insyaalah karena denganpuasa manusia mampu menekan beringasnya hawa nasfu hingga tak bisa lagi menguasai jiawanya. Dengan puasa manusia seolah-olah telah membuktikan kepada Allah bahwa ia mampu mengendalian keinginannya demi melaksanakn perintah Allah SWT. Dengan kemenangannya dalam memerangi hawa nasfu, seorang muslim akhirnya bebas dari kekangan syahwati yang selama ini menghijabi dirinya dengan Allah. Dengan puasa seorang muslim juga meningkatkan dirinya menjadi juara dalam pertempurannya melawan musuh terbesar yang ada dalam diri sendiri. Wajarlah jika medali ketakwaan disematkan kepada orang orang yang melaksanakan puasa dengan benar. Karena orang yang puasa telah menjadi pemenang

إنَّ لِلۡمُتَّقِينَ مَفَازًا

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan,”

Semoga ditengah kondisi wabah yang seperti ini, kita tetap selalu atau bahakan semakin ingat kepada apa tujuan puasa di bulan ramadhan yang begitu mulian ini. Sehingga sifat taqwa melekat dalam diri kita walau kondisi dunia sedang tidak bersahabat.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *