Mengajari Anak Sesuai Kebutuhannya

Oleh Rinawati, S.Pd.

Kata kunci: DAP, kebutuhan, parenting, , anak Indonesia Hebat

Sebagai orang tua pastilah memimpikan bisa mengantarkan anaknya menjadi anak yang cerdas dan berkualitas. Sebagian besar orang tua memilihkan sekolah yang terbaik untuk anak mereka. Orang tua sangat detail dalam memilih program unggulan yang ditawarkan setiap sekolah. Namun orang tua lupa bahwasanya setiap anak itu unik. Satu anak tidak bisa disamakan dengan anak yang lainnya. Setiap anak memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, Kekhilafan tersebut sekarang sangat jarang disadari para orang tua. Terkadang orang tua tidak menyadari bahwa mereka membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Para orang tua memaksakan kehendaknya agar anaknya bisa ini dan itu dengan cepat dan berhasil sesuai ekspektasi orang dewasa. Buanglah jauh-jauh pemikiran ini dan kuburlah sedalam-dalamnya.

Bredekamp (1987) dalam bukunya yang berjudul Developmentally Appropriate Practices ( yang disingkat DAP) yang diterbitkan oleh NAYC (National Association for the Young Children ) Amerika Serikat. Bredekamp menekankan bahwa pengembangan program untuk anak usia dini harus berbasis pada perkembangan dan kebutuhan anak serta disesuaikan dengan karakteristik dan kepentingan anak. Evaluasi yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah ajarkan anak sesuai dengan kemampuannya. Maksudnya ketika kita mengajari anak beribadah sholat, mereka pasti akan bercanda atau belum khusyuk. Para orang tua janganlah marah, kita tidak bisa memaksakan hasil belajar sholat seperti orang dewasa yang benar dan tepat tapi kita perlu terus menerus untuk memotivasi dan membiasakan karena anak-anak butuh proses dengan kesabaran orang tua. Namun orang tua jangan salah menafsirkan tentang ajari anak sesuai kebutuhannya. Kemudian orang tua membiarkan saja anaknya berkembang tanpa adanya stimulus dan bantuan tentu saja hal itu sangat tidak mungkin anak akan tumbuh secara optimal. Ya sudah, dia belum waktunya, biarkan saja nanti ketika umurnya pasti akan bisa sendiri. Itu paham yang salah, perlu digarisbawahi oleh orang tua.

Program yang disusun oleh orang tua harus mengikuti perkembangan anak. Jadi stimulus yang akan diberikan kepada anak sesuai dosisnya alias tidak membludak tumpah. Misalnya ketika orang tua ingin memberikan les tambahan bagi anaknya dengan mengikutkan program di luar lembaga sekolah maka yang perlu ditekankan adalah apa tujuan mengikutkan dan program yang diberikan kepada anak memberatkan atau tidak. Banyak orang tua ingin mengikutkan anaknya berbagai program di luar sekolah untuk mengejar prestise. Anak itu butuh waktu bermain dan bisa sambil belajar ketika bersosialisasi dengan temannya. Ketika waktu bermain itu terampas sejak dini maka pemberontakan itu akan terjadi di kemudian harinya. Berikan porsi yang seimbang untuk bermain dan belajar. Upayakan berikan waktu luang bagi orang tua dan anak untuk bisa bercerita dan saling menguatkan satu sama lain. Quality time itu memang sepele anggapan banyak orang tetapi efek yang positif banyak diberikan. Anak akan lebih terbuka kepada orang tua kelak, lebih mendekatkan emosi anak dengan orang tua dan lain-lain.

Tanggung jawab sebagai orang tua sangatlah berat maka imbangi pengetahuan kita dengan mengikuti program parenting dan sharing dengan kolega. Saya pun sebagai orang tua bagi anak-anak di rumah dan sebagai pendidik bagi anak-anak saya di sekolah juga masih belajar untuk bisa menyeimbangkan ego sebagai orang tua dan guru agar bisa memberikan program pembelajaran yang terbaik untuk anak usia dini. Anak-anak bisa belajar menyenangkan dan bisa membekas di sepanjang usia emas mereka hingga dewasa nanti. Karakteristik anak-anak itu tidak bisa disamakan dengan faktor genetik, lingkungan dan gaya belajar mereka sesuai dengan kecerdasan majemuk. Oleh karena itu, sebagai orang tua dan pendidik yang hebat adalah bisa melihat dan mengamati secara objektif proses belajar anak dengan penuh kesabaran bukan melihat hasil akhir anak saja. Jadi kami tekankan kembali kepada seluruh orang tua bahwa mari kita mengajari anak usia dini sesuai kebutuhannya. Jangan bebankan mereka kepentingan-kepentingan orang tua semata. Tapi mari kita saling menyadarkan bahwa orang tua berperan aktif terhadap keberhasilan pendidikan anak dengan sabar memberikan stimulus terhadap anak walau memang hasil setiap anak pasti berbeda. Tetap semangat Hai Para Orang Tua! kita pasti bisa mengantarkan anak kita menjadi anak yang cerdas dan berkarakter mulia. Mulailah pembiasaan dari rumah dan pemberian stimulus yang sesuai dengan kebutuhan anak.

 

Anak Indonesia Hebat!

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *