Oleh: Anggita Azaria Ramadhani  (Siswa Kelas 5 SD IIS PSM)

 

Bandung, Jawa Barat, selalu jadi yang pertama di hati Khalis. Bukan karena elok semata, tapi sejumput kebahagiaan Khalis berawal dari situ. Kota kelahirannya, Magetan, ditinggalkan begitu saja. Tanpa ada kenangan terbesit di nalurinya.

Khalis bukan benci, tapi terlalu bosan mendengar desisan padi yang hampir masak, tetesan embun yang monoton, bising kendaraan yang hampir tak terdengar. Khalis hanya benci sunyi.

Semenjak pindah dari Magetan, hidup Khalis lebih berwarna. Orang-orang ada di mana-mana, bising kendaraan memecah malam sepi, cahaya menara pencakar langit menambah kerlip malam. Semuanya itu begitu sempurna bagi Khalis.

Pemuda itu sebenarnya sadar. Ia sudah terlalu jahat dengan kota yang membesarkannya dengan cuitan burung-burung kecil yang jadi teman sehari-hari, rengkuhan sanak-saudaranya yang menghangatkan hati dan tubuh. Maka, rasa ingin pulang terus menghantui. Tapi Khalis tak mau kembali dalam keheningan tak berarti.

“Khalis, kamu ndak pulang ke Magetan?” suara dari ponsel itu membuat Khalis menghela napas.

Pertanyaan itu keluar dari Karina, kakak kandung Khalis. Tapi, hening. Tak ada jawaban keluar. Karina kembali mengulangi pertanyaanya dengan nada yang sama.

“Mbak, biar Khalis mikir dulu ya,” jawab Khalis menutup sambungan dengan senyum tipis di wajah, menunggu otaknya menyelesaikan semua ini.

Khalis mengambil koper kosong di atas lemari, menyiapkan segala keperluannya untuk pulang, kembali ke Magetan. Setelah menimbang beragam kemungkinan, Khalis memilih. Ia kembali bersama orangtua dan keluarga besarnya di Magetan. Satu koper kecil dan satu tas besar sudah terpampang. Ia hanya perlu pesan tiket, dan berangkat sore.

___

Khalis berada di stasiun Bandung. Sambil menunggu, Khalis melihat-lihat postingan dirinya di Instagram. Khalis tersenyum pada salah satu foto saat ia berada di Lembang. Tercetus ide dari Khalis agar Magetan menjadi ramai dan dikunjungi banyak orang sehingga dianggap ‘ada’ oleh masyarakat. Khalis mengetik tulisan buat akun, memposting beberapa hasil jepretan saat pulang ke Magetan, walau foto itu sudah terlalu lama terendap di galeri ponselnya.

Mendengar nama kereta yang akan ditumpangi segera berhenti, Khalis langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas. Lelaki itu bergegas masuk ke dalam kereta.

___

Khalis pulang ke rumah bercat putih gading sedikit cerah karena terkena cahaya ufuk timur. Warnanya sudah berubah semenjak terakhir Khalis ke rumah ini dua tahun lalu.

Ponselnya bergetar menandakan ada notifikasi masuk. Ribuan ‘suka’ dan ‘komentar’ masuk ke akun yang baru ia buat saat masih di stasiun Bandung. Dibantu dengan banyak pengikut di akun pribadinya, postingan-postingan Khalis jadi populer. Khalis menyunggingkan bulan sabit di bibirnya, senyum manis yang bercahaya melihat kotanya akan kembali dikunjungi turis-turis.

“Bunda, Ayah, Mbak Karin, ini Khalis pulang!”

Khalis melepas sepatu dan kaus kakinya, menarik kopernya. Tangan Karina terulur membantu adik bungsunya mengangkat koper dan masuk ke rumah. Senda gurau kembali tercipta. Tawa keluarga menjadi suara yang indah. Khalis sudah bahagia karena telah menghidupkan situasi hangat ini.

___

Hari ini, ponsel Khalis lebih ramai daripada biasanya. Orang-orang mengirimkan foto ke akun Khalis. Mulai dari Telaga Sarangan, Cemoro Sewu, Air Terjun Tirtosari, hingga Alun-alun Magetan. Semuanya membuat wajah Khalis terasa segar. Karina menduga Khalis belum tahu berita tentang pencapaian positif adiknya itu. Ia langsung menghampiri Khalis dan mengungkapkan maksudnya.

“Khalis, selamat. Kamu masuk koran. Kamu jadi berita tentang pemuda yang membuat Magetan populer,” ucap Karin setenang mungkin, diiringi keterkejutan Khalis.

Dengan mulut membuka lebar, hati Khalis membuncah. “Jangan lupa sayang sama kota ini, ya,’’ kata Karin sambil merangkul pundak Khalis, dan ia hanya membalasnya dengan anggukan kuat. Khalis tahu Magetan akan bersinar. Sebentar lagi.

Laki-laki itu mengambil ponsel yang ia simpan di saku, dan mengunggah beberapa foto yang sudah orang-orang kirim untuknya. Dengan cepat ia mengunduh semua foto itu dan merapihkannya sebelum posting ke internet.

“Selamat datang di Bumi Kumandang kami tercinta. Jangan lupa untuk pulang ke sini lagi, ya!” Khalis mengetik deskripsi foto itu sambil tersenyum bangga. Magetan sudah bangkit, menatap sinar masa depan yang siap menunggu putra-putri Magetan, meraih asa, buat bangga Indonesia. (*)

 

Source : https://mepnews.id/2020/02/08/magetanku-magetan-kita/

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *