LAKI-LAKI HEBAT

Oleh : Abdul Rohman Fauzi

 

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Lukman menasehati anaknya yang tentu amat ia sayangi, yaitu dengan nasehat yang amat mulia. Ia awali pertama kali dengan nasehat untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apa pun.”

Tentunya kisah Luqman dalam potongan ayat di atas adalah salah satu contoh dalam alqur’an tentang kepedulian orang tua dan peran penting seorang ayah dalam membentuk karaktera anaknya.

Peran ayah dalam keluarga bukan hanya bertanggung jawab dalam hal memenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Akan tetapi peran seorang ayah juga menjamin anaknya dalam membentuk pribadi yang berakidah dan berahlak.

Peran laki-laki bukan hanya menjadi seorang ayah, tetapi juga menjadi suami yang baik bagi istri nya. Peran laki-laki sebagai suami adalah memberi kehidupan yang layak, rasa nyaman. Selain sebagai suami laki-laki juga berperan penting dalam membentuk karakter wanita menjadi ibu yang baik bagi anak anak nya.

 

Laki-laki sebagai suami.

Islam mengatur tatanan cara membangun keluarga yang baik. Tentunya membangun keluarga yang baik bermula dari pasangan yang baik pula. Sebagaimana dalam hadist Rasulullah SAW :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَات الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ[ رواه البخارى ]

 

Artinya: “Di ceritakan Musadad, diceritakan Yahya dari ‘abdulloh berkata bercerita kepadaku Sa’id Ibn Abi Sa’id dari Abi Hurairah R.A. bahwasanya Nabi saw bersabda wanita dinikahi karena empat perkara. Pertama hartanya, kedua kedudukan statusnya, ketiga karena kecantikannya dan keempat karena agamanya. Maka carilah wanita yang beragama (islam) engkau akanberuntung.”[HR. Bukhari ].

Hadist tersebut memberikan ketentuan bagaimana islam mengatur sedemikian rupa perihal jodoh dan membuktikan bahwa islam sudah berperan penting dalam hal membentukpribadi yang baik.

Membentuk pribadi anak yang baik bukan hanya ketika anak itu masih dalam kandungan atau ketika lahir. Akan tetapi dalam hal memilih pasangan hidup islam sudah memberikan aturan tersebut. Dalam islam wanita yang baik adalah wanita yang beragama. Beragama bukan hanya meyakini rukun islam dan iman saja. Akan tetapi beragama juga di artikan wanita yang paham akan kehidupan secara syari’at islam. Dari wanita yang baik maka akan menjadi ibu yang baik dan dari ibu yang baik maka akan muncul keturunan yang baik pula. Disinilah peran laki-laki sebagai suami menjadi imam bagi keluarganya. Seorang laki-laki dalam islam harus menjadi pondasi utama terbentuk nya keluarga yang berakidah dan berahlak.

Laki-laki sebagai ayah.

Pernahkah kalian mendengar cerita Nabi Nuh AS, Nabi Nuh menyeru kepada anaknya bernama Kan’an untuk memeluk islam. Pernahkah kalian mendengar cerita Nabi Zakaria AS, yang dengan kepeduliannya Nabi Zakaria AS, mendidik Siti Maryam menjadi wanita yang tangguh dan ta’at.

Cerita di atas menggambarkan betapa penting peran laik-laki sebagai ayah dari anak-anaknya. Mengenalkan pendidikan syari’at islam pada usia dini sangatlah penting. Karena dengan itu maka anak-anak akan ta’at dan patuh.

Peran ayah tidak hanya memberi nafkah untuk memnuhi kebutuhan hidup keluarga tetapi juga peran ayah sebagai guru untuk anak dan istrinya. Dalam kitab tarbiyah wa ta’lim “Al ummu madrasatul ula” yang artinya ibu adalah madrasah pertama bagi anak”. Peran ayah disini sebagai kepala sekolah dari madrasah tersebut. Baik dan tidaknya madrasah tersebut tergantung peran dari kepala sekolah.

Peran ayah dalam keluarga harus mengambil bagian yang besar sebagaimana peran Nabi muhammad sebagai ayah dari Fatimah anaknya yang dengan sabar mendidik anak nya sehingga menjadi pribadi yang santun dan ta’at. Sejak istri Rasulullah Khadijah meninggal Rasulullah memegang peran penting sebagai ayah dari Fatimah.

Keteladanan seorang ayah bagi anaknya sangatlah penting, seorang anak membutuhkan sosok figur dalam dirinya. Figur inilah yang akan membentuk pribadi seorang anak dengan karakter baik atau tidak. Anak yang tidak mempunyai figur yang baik maka anak cenderung mencari figur dari sosok lain yang tidak memiliki peran yang baik. Anak tidak terarah cenderung berbuat semaunya karena merasa tidak ada pengawasan dan figur yang di tirunya. Seorang anak adalah plagiat yang ulung.

Selain menjadi teladan bagi anaknya, ayah adalah seorang ustad sekaligus teman. Seorang ustad akan menyeru kebaikan kepada jama’ahnya. Begitu juga seorang teman akan selalu ada menjadi teman curhat untuk menyelesaikan masalah. Seorang ayah harus bisa menegur dan menasehati ketika seorang anak berbuat salah. menasehati adalah bentuk empati seorang ayah terhadap anaknya. Seorang ayah yang baik tidak hanya menjadi teladan tetapi juga mampu memberi nasehat dan menjadi teman yang baik untuk anaknya.

“Laki-laki yang hebat adalah yang mampu menjadi seorang suami yang baik bagi istrinya sekaligus ayah yang baik bagi anak-anaknya.”

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No announcement available or all announcement expired.