Iqra’

(By: Mr Anwar)

 

Prof. Hull dalam karyanya History and Philosophy of Science mengatakan bahwa dalam pandangannya siklus dominasi perkembangan antara agama dan ilmu pengetahuan terjadi setiap enam abad. Hull memulai penelitiannya dengan mengkaji abad 6 SM sampai abad 1 M.

 

Diketahui bahwa pada periode tersebut (6 SM – 1 M) dominasi perkembangan ilmu pengetahuan melaju dengan pesat dan berbanding terbalik dengan perkembangan agama. Sejarah mencatat pada periode tersebut terlahir banyak ilmuwan ternama, yakni para tokoh filusuf Yunani, sebut saja Socrates, Plato, Aristoteles, Pythagoras, dan lain sebagainya. Sementara itu, tokoh agamawan pada periode itu seakan hampir tidak ditemukan.

 

Pada periode selanjutnya (1 M – 6 M) dominasi perkembangan beralih kepada agama. Hal ini diawali dengan lahirnya Nabi Isa As. Bila diperhatikan dengan seksama pada periode ini terlihat para tokoh yang bergelut dalam bidang keilmuan mengalami penurunan popularitas, dan berbanding terbalik dengan semakin meningkatnya popularitas para tokoh agamawan. Pada periode ini agama menjadi primadona. Para penguasa bergabung dengan para tokoh agama pada masa itu yaitu, pendeta greja. Mereka menjadikan diri mereka seolah sebagai wakil Tuhan di bumi dan mengekang rakyatnya bergelut dalam dunia ilmu pengetahuan agar tidak terlahir pemikiran yang bertentangan dengan pemikiran mereka.

 

Kemudian pada periode berikutnya (6 M – 13 M), nampaknya dominasi perkembangan antara agama dan ilmu pengetahuan seolah tidak terjadi. Keduanya berjalan beriringan dan berkembang pesat secara bersamaan. Periode ini ditandai dengan lahirnya Revolusioner Besar yakni Nabi Muhammad Saw. dengan agama Islam.

 

Mengingat pada periode sebelumnya (1 M – 6 M) terjadi penyimpangan dalam hal agama dan kegelapan dalam hal ilmu pengetahuan, maka Allah SWT mengutus Nabi Muhammad Saw. dengan agama Islam.

 

Nabi Muhammad Saw. memadukan agama dan ilmu pengetahuan. Hal ini sebagaimana  kalam Allah SWT yang diwahyukan pertama kali kepada beliau, yakni surat Al ‘Alaq ayat pertama: Iqra’ bismi Rabbikallazi khalaq yang artinya “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”. Jika diperhatikan secara mendalam, iqra’ menunjukkan ilmu pengetahuan dan bismi Rabbik menunjukkan agama. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Jika iqra’ tanpa bismi Rabbik atau bismi Rabbik tanpa iqra’, maka tidak akan mengangkat martabat manusia.

 

Pada periode tersebut (6 M – 13 M), antara ilmu pengetahuan dan agama keduanya begitu padu berjalan bersama. Selain ditandai dengan lahirnya Nabi Muhammad Saw. Tak lama setelah masa Nabi, lahir pula para imuwan-ilmuwan muslim religious ternama, sebut saja, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Khwarizmi, dan lain sebagainya.

 

Pada periode selanjutnya (13 M – 20an M) yang termasuk di dalamnya era Renaissance, Modern dan Kontemporer perlahan ilmu pengetahuan berkembang cepat luar biasa tetapi seolah berjalan sendiri dan melupakan agama sebagai pembimbingnya.

 

Kemudian untuk periode berikutnya hingga saat ini (era Millenium), nampaknya ilmu pengetahuan seolah seperti semakin pesat di tengah gemparnya revolusi industri keempat yang dikenal dengan Revolusi Industri 4.0. pendidikan agar tidak tergilas oleh zaman mau tidak mau jelas terpengaruh oleh revolusi industri 4.0 tersebut, atau yang kini disebut Pendidikan 4.0. Pendidikan yang syarat dengan penggunaan teknologi digital dalam proses pembelajaran.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *