MENYARING KATA SEBELUM BERSUARA

Oleh: Halla Al Hartik, S.Pd.

 

Pasti sebagian besar orang pernah berpuasa untuk tidak makan dan minum. Sekarang pertanyaannya, apakah ada diantara kita yang pernah berpuasa untuk tidak berbicara? Artinya apakah kita pernah benar-benar bisa untuk tidak berbicara seharian? Saya yakin 99% orang akan menjawab tidak pernah. Begitupun saya, saya juga tidak pernah berpuasa berbicara. Saya tidak membayangkan bagaimana saya akan menjalani kehidupan dalam satu hari apabila saya disuruh berpuasa berbicara. Kita semua pasti berbicara setiap hari, berbicara dengan orang tua, anak, keluarga, orang lain, bahkan kadang dengan orang yang belum kita kenal. Berbicara merupakan suatu bentuk komunikasi seseorang dengan orang lain.

Di era yang serba canggih ini kita sudah difasilitasi oleh berbagai alat komunikasi yang menunjang cara kita berkomunikasi. Ada sebagian dari kita yang lebih memilih berbicara secara langsung baik bertemu tatap muka ataupun sambungan telefon. Kenapa begitu ? Ya, untuk menghindari kesalahapahaman. Kadang apa yang kita tulis lewat pesan singkat sms, whatsapp, line dan lain lain akan bisa diartikan berbeda oleh orang lain yang membaca. Sehingga berbicara langsung dirasa lebih efektif sehingga informasi tersampaikan dengan baik daripada lewat pesan singkat tadi. Tapi ada juga yang lebih nyaman berkomunikasi lewat tulisan saja baik pesan singkat ataupun melalui media sosial. Sebagai manusia yang diciptakan dengan akal dan pikiran, apakah kita sudah bisa mengontrol kata-kata yang keluar dari mulut ataupun tulisan kita dengan baik ? Jawabannya kembali ke diri kita masing-masing.

Pernah tidak kita berpikir, apakah kata-kata yang kita keluarkan ataupun yang kita tulis akan menyakiti hati orang lain. Ada kekuatan yang luar biasa dibalik kata-kata. Akhir-akhir ini kita sering sekali mendengar istilah body shaming. Korbannya pun nggak tanggung-tanggung mulai dari masyarakat biasa, kalangan artis, pejabat, bahkan kepala negara. Itu memang bukan kekerasan fisik ya tapi kekerasan verbal yang cukup menyakitkan dan dampaknya besar bagi korban. Mungkin hanya sebatas kata-kata tapi bisa membuat seseorang terluka yang cukup lama sembuhnya.

Saya pernah menonton sebuah cara talk show yang kebetulan membahas body shaming. Bintang tamunya seorang host dan mantan VJ ternama di tanah air yaitu Daniel Mananta. Pemilik Clothing line Damn, I love Indonesia ini menceritakan pengalamannya yang pernah menjadi korban kekerasan verbal. Saat dia kelas 3 SD, dia sering diejek dengan kata-kata “Daniel kurus jelek, Daniel kurus jelek” oleh teman-temannya sehingga membuat kepercayaan dirinya hilang. Krisis kepercayaan diri ini membuat dia menjadi pendiam dan malas berinteraksi. Selama 5 tahun dia merasa dia orang yang paling jelek. Sampai ahirnya diusia 15 tahun dia mempunyai teman yang selalu mensupportnya. Satu temannya ini berkata, “Daniel kamu ganteng, kamu baik, kamu itu pintar”. Sejak saat itu dia benar-benar berubah. Dia menjadi lebih percaya diri, dia lebih mau untuk berinteraksi dengan teman dan lingkungan sehingga dia bisa menjadi dia yang sekarang.

Apa yang kita katakan kepada orang lain itu bisa menjadi dua hal yaitu menjadi motivasi baginya atau justru bisa menghancurkannya. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, sudah cukup bijakkah kita dalam bertutur kata. Mungkin kita semua pernah menyakiti hati orang lain saat berinteraksi dengan mereka baik sengaja maupun tidak sengaja. Kadang kita salah berbicara atau mungkin pesan singkat yang kita kirimkan dinterpretasikan berbeda. Orang lain mungkin bisa saja memaafkan kita tapi kata-kata kita yang menyakitkan tidak akan pernah dilupakan.

Sungguh kekuatan kata-kata itu sangat besar dampaknya. Apalagi sebagai seorang guru, seorang murid kadang lebih mau mendengar perkataan gurunya daripada perkataan orang tuanya. Kita benar-benar wajib menjaga lisan kita. Berkata yang baik dan selalu memotivasi anak-anak.

 

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No announcement available or all announcement expired.