Saya Bukan Guru Ladang

Oleh : Gebya Oktammeria H.

 

Kira-kira 5 tahun saya ditugaskan untuk menjadi seorang “pendidik” bagi anak-anak TKI di Sabah Malaysia. Saya ditempatkan di sebuah perkebunan kelapa sawit bernama Ribubonus Estate yang merupakan salah satu perkebunan kelapa sawit terbesar di Sabah, di bawah syarikat Wilmar Corp. Ribubonus Estate terletak di daerah bagian Telupid yaitu 180 km lebih dari kota terbesar di Sabah Kota Kinabalu. Dari namanya saja sudah tersirat bahwa ladang (red: perkebunan) ini menyuguhkan banyak bonus di dalamnya. Berjarak 15 km dari simpang atau jalan masuk, ladang Ribubonus harus ditempuh dengan menyebrangi sungai sejauh 100 m dengan menggunakan ferry. Kami menyebutnya ferry, kapal besi besar yang bisa menampung banyak kendaraan dan dijalankan dengan tali yang digerakkan mesin. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke Ribubonus kira-kira 1 jam dengan anggapan ferry akan dijalankan cepat, jika ferry harus menunggu sampai kendaraan terisi penuh secara otomatis waktu tempuh akan bertambah tak beraturan.

Saya ditugaskan untuk menjadi pendidik pada sebuah Community Learning Center atau sekolah setingkat SMP terbuka di Indonesia. Sekolah kami bernama CLC 28 Ribubonus. Di CLC 28 Ribubonus, saya ditugaskan bersama dengan Ibu Ari Indarti yang ternyata tidak lain adalah tetangga satu daerah saya di Jawa Timur. Murid kami tidak banyak. Dalam formasi lengkap saat itu murid kami hanya berjumlah 33 anak dengan rincian 19 murid kelas VII, 10 murid kelas VIII, dan 4 murid kelas IX. Karena jumlah pendidik sangatlah terbatas, kami dituntut untuk mengajar dalam beberapa mata pelajaran. IPA, Matematika, IPS, Bahasa Inggris, dan Seni Budaya adalah beberapa mata pelajaran yang “harus” saya ajarkan ke murid-murid. Apakah gampang mengajar itu semua? Jawabannya adalah SANGAT SUSAH. Apalagi dengan dasar ilmu kimia yang saya pelajari bertahun-tahun, mengajar IPS adalah sebuah tantangan tersendiri.

Pada mulanya…

Setelah cukup waktu saya mengenali setiap sudut ladang ini, saya mulai tahu bahwa tempat ini adalah bukan tempat biasa. Rimbunnya sawit menyimpan sebuah cerita tentang nasib orang rantau yang meninggalkan negerinya sendiri demi harapan hidup yang lebih baik. Ya, mereka tahu hidup di “sana” susah dan harapan itu ada disini dibalik kokohnya sawit Malaysia.

Sejak puluhan tahun lalu orang-orang Indonesia banyak yang pergi merantau ke Sabah Malaysia. Mereka berangkat dari kampungnya dan tidak jarang membawa semua anggota keluarganya kesini. Ada yang melalui jalan resmi dan ada pula yang melalui jalan belakang tanpa dokumen perjalanan yang jelas. Inilah asal mulanya kenapa sangat banyak anak Indonesia yang tumbuh disini. Apakah pendidikan mereka terjamin? Tentu tidak. Lingkungan sawit amatlah keras untuk mereka. Setiap hari anak-anak yang sudah cukup umur akan bekerja dari pagi hingga siang hari bahkan sore hari bersama bapak dan ibunya. Sebagi hasilnya mereka akan mendapatkan upah sendiri dari hasil kerjanya setiap hari. Pernah suatu kesempatan saya bertanya pada salah satu anak.

“Mengapa kau mau pergi kesini dan meninggalkan sekolahmu disana?”
“Orang tua ajak saya kesini dan akhirnya saya putus sekolah.” Jawab anak tersebut

Itulah realita yang ada disini. Banyak anak terpaksa putus sekolah di Indonesia dan nasib mereka berakhir dengan menjadi buruh sawit. Hal-hal tadilah yang pada akhirnya mengendapkan tujuan saya datang kesini. Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjamin masa depan anak-anak para pekerja Indonesia. Mereka punya mimpi yang harus tetap diperjuangkan.

Menjadi pendidik disini tidak mudah. Mengajak mereka kembali belajar di sekolah adalah misi sulit di awal kedatangan. Kondisi bangunan tempat belajar juga menjadi faktor penghambat kami disini. Kami harus belajar di “kandang budak” atau tempat penitipan anak para pekerja ketika mereka bekerja di pagi hari. Budak adalah bahasa Malaysia dari anak, cukup aneh di telinga untuk yang baru pertama kali mendengar tentunya.

Pagi hari adalah saatnya bekerja dan siang hari adalah “school time”. Tak jarang anak-anak ini mengantuk dan tidur ketika sedang belajar. Seragam mereka apa adanya. Buku mereka ala kadarnya. Mereka bisa saja mencampur 2-3 mata pelajaran dalam satu buku. Absensi sangat mengagumkan dengan banyak huruf A ditulis dalam setiap kolomnya. Sikap mereka di sekolah jangan disamakan dengan sekolah reguler pada umumnya.

Laki-laki merokok itu sudah biasa bahkan untuk ukuran anak-anak merokok adalah hal lazim yang sudah pernah mereka coba. Pernah suatu hari ketika kami adakan sidak dan wawancara langsung kepada salah satu murid, mereka mengatakan bahwa narkoba sudah umum dikenal dan ada indikasi mereka pernah mencobanya. Mereka menyebutnya batu, sejenis narkoba yang digunakan dengan cara dihisap.

Bagi para perempuan nikah cepat adalah hal yang umum terjadi. Banyak orang tua yang secara sukarela membiarkan anaknya dipinang dalam masa-masa belajarnya. Saya ingat betul sebuah tragedi pemaksaan yang dialami salah satu murid oleh orang tuanya. Orang tua tersebut tidak segan memukul dan menendang agar anaknya mau dinikahkan. Hal itu terjadi di depan mata kami. Apa daya, murid tersebut akhirnya keluar sekolah.

Kejadian-kejadian di atas membuka mata kami para pendidik selebar-lebarnya. Ada mimpi yang harus diperjuangkan. Ada kondisi yang harus diubah dari mutiara bangsa disini. Saya memang guru ladang tapi ternyata ladang telah menjadi lebih dari guru buat saya. Ladang mengajarkan saya arti perjuangan yang sesungguhnya

 

Gebya Oktammeria H – (Guru SMA IIS PSM & Pendidik Bagi Anak-Anak TKI Sabah 2013-2018)

One Response to Saya Bukan Guru Ladang
  1. Bu Ari Indarti, beliaulah yang pertama kali mengetuk pintu SMA IIS PSM di tahun pertama, 2016. Dari beliaulah Kami mengenal Sabah bridge, dari belasan Baswen kloter pertama, yang akhirnya belajar di Magetan, Ka Pyan, Ka Syida, Ka Weni, Ka Fatin dan Ka Ana.

    Semoga Allah selalu bersama mereka, menggapai cita untuk kembali membangun negeri. Aamiin


[top]

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No announcement available or all announcement expired.