Berlayar di Antara Dua Arus
“Kehidupan itu laksana lautan. Orang yang tiada berhati-hati dalam mengayuh perahu, memegang kemudi, dan menjaga layar, maka karamlah ia digulung oleh arus ombak dan gelombang. Hilang diantara samudera luas. Tiada akan tercapai olehnya tanah tepi.”
~Buya Hamka~

(Article by : Sofyan Ariefullah, S.Pd., Gr)

layar

Abad 21 merupakan sebuah pintu gerbang menuju era globalisasi bagi bangsa Indonesia. Pada era ini tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita akan semakin besar. Bukan hanya dari satu aspek saja, akan tetapi tantangan yang akan dihadapi kali ini bersifat holistik disemua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pada era ini, kita telah merasakan berbagai kemudahan diantaranya adalah kemudahan berkomunikasi dan mengakses informasi. Dengan perkembangan teknologi komunikasi nirkabel dan internet, kita dapat dengan mudah berhubungan dengan orang lain di belahan bumi manapun. Informasi dan ilmu pengetahuan pun mudah diperoleh melalui jejaring internet.
Bagaikan belati bermata dua, selain membawa dampak positif, ternyata era globalisasi juga memilikidampak negatif. Globalisasi secara perlahan-lahan telah menggiring generasi muda Indonesia pada arus liberal, meninggalkan budaya bangsanya sendiri. Semakin mudahnya akses informasi ternyata tidak disertai dengan kesadaran masyarakat untuk menyaring informasi tersebut. Tanpa disadari, budaya liberal mulai merasuki hati dan sanubari generasi muda. Mereka terbuai dengan kebebasan semu yang ditawarkan oleh budaya liberal yang dibawa era globalisasi, hinggaterlupa akan jati diri sebagai keturunan bangsa besar nan terhormat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan.
Jika boleh diibaratkan,keadaan bangsa kita sekarang seperti sebuah perahu yang sedang berlayar mengarungi samudra. Globalisasi adalah arus ombak di sisi kanan perahu sedangkan budaya bangsa kita adalah arus ombak yang berada pada sisi kiri perahu.Dengan kenyataan tersebut, maka diperlukan nahkoda yang benar-benar hebat untuk dapat mengendalikan dan mengarahkan agar perahu tersebut mampu berlayar di antara dua arus yang saling bertolak belakang. Dengan kata lain, selain penanaman pola pikir yang maju dan kreatif, generasi muda Indonesia harus memiliki karakter yang kuat serta akhlak dan kepribadian yang baik agar dapat terus bertahan dan berjuang serta bersaing dengan bangsa lain. Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter sebagai modal utama perlu untuk terus diinternalisasi ke dalam diri generasi muda.
Hal tersebut dapat diimplementasikan melalui jalur pendidikan formal di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Meskipun internalisasi pendidikan karakter tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, namun hal tersebut bukanlah hal yang mustahil. Sebagai contoh, bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama,tentu saja pendidikan karakter dapat diperoleh dengan cara mempelajari, mendalami, dan mengamalkanajaran agama. Selain itu, implementasi sistem pendidikan berbasis 21st Century Learning yang terintegrasi dengan semua aspek penguatan pendidikan karakter diyakini mampu mencetak agent of change yang berwawasan global namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan jati diri bangsa. Implementasi pendidikan karakter yang baik akan menghasilkan generasi yang bijaksana dalam menjalankan sebuah peradaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No announcement available or all announcement expired.